Apakah Anak yang Belajar Membaca Otomatis Bisa Menulis?
Sebagian guru atau orangtua bertanya mengapa anak mereka yang sudah bisa membaca tidak dapat menulis sesuatu yang telah dibacanya? Tentu saja, karena belajar membaca dan menulis melibatkan ‘keahlian/kecerdasan’ yang berbeda. Minimal anak baru dapat menulis dengan baik jika mereka sudah dapat membaca dengan baik. Menulis yang dimaksud di sini adalah proses menulis tanpa dieja oleh guru, misal anak diminta menulis ‘jalan’ tanpa diberitahu huruf apa saja yang perlu ditulis di atas kertas. Jangan pernah bermimpi anak yang dapat membaca, secara otomatis dapat “memvisualisasi” tulisan yang telah dibacanya secara otomatis. Hal itu memerlukan kematangan otak, untuk dapat menjembatanii proses membaca ke menulis, disertai latihan yang terus menerus untuk mengasah ‘keahliannya’ hingga bisa menulis semua kata tanpa salah meletakkan komponen huruf pembentuk kata. Dan ini, bukan tugas mudah, bahkan untuk anak yang otaknya cukup matang sekalipun. Semua ini perlu proses yang memakan waktu, bisa lama bisa cepat, bergantung kesiapan masing-masing anak.
Sekarang cobalah Anda
menulis sesuatu, Anda pasti melibatkan ‘visualisasi’ yang berlangsung
di dalam otak sebelum menuliskan kata yang akan muncul di atas kertas.
Jika Anda sudah ahli, maka visualisasi tersebut akan nampak ‘otomatis’
sehingga tidak perlu lagi berfikir. Lalu bagaimana dengan anak yang baru
saja bisa belajar membaca? Mereka perlu kerja keras untuk merumuskan
sesuatu yang telah diketahuinya ke dalam “tulisan”. Anak-anak yang baru
saja bisa menguasai cara membaca kata, akan sering melakukan kesalahan
dalam menuliskan kata yang dibacanya. Contoh kata “mo” terkadang anak
menulisnya terbalik “om” dan bukan “mo”. Analoginya seperti seorang anak
yang baru saja belajar ilmu matematika dan diminta untuk mencari
panjang sisi pesergi padahal biasanya mereka terbiasa menghitung luas
pesergi. Terkadang proses ini memerlukan berulangkali latihan sebelum
sampai tahap ‘otomatis’. Umumnya anak-anak yang memiliki kecerdasan
logika tinggi dapat melewati proses ini lebih cepat dibanding anak yang
memiliki kecerdasan jenis lain.
Jadi sebelum menguasai materi membaca jangan terlalu membebani anak dengan ketrampilan menulis. Bersabarlah dengan perkembangan putra putri Anda, tunggu saat yang tepat untuk mengajarkan semua materi itu agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Tunggulah sampai anak benar-benar siap belajar menulis, dan jangan beri beban yang berlebihan dengan mengajarinya menulis jika anak belum mampu membaca (belum lulus abaca seri 1 sampai 3 sampai 'ahli'). Dan yang terpenting, perhatikan reaksi anak. Jika anak terlihat terbebani maka tunda dulu, lalu tes lagi sekitar 4 bulan berikutnya. Jika anak sudah menunjukkan ketertarikkan alami terhadap ‘corat – coret’ huruf, maka tidak ada salahnya Anda mencoba ‘memancingnya’ untuk menulis suku kata yang mudah dulu.
Oleh: Diena Ulfaty
Jadi sebelum menguasai materi membaca jangan terlalu membebani anak dengan ketrampilan menulis. Bersabarlah dengan perkembangan putra putri Anda, tunggu saat yang tepat untuk mengajarkan semua materi itu agar hasil yang diperoleh juga maksimal. Tunggulah sampai anak benar-benar siap belajar menulis, dan jangan beri beban yang berlebihan dengan mengajarinya menulis jika anak belum mampu membaca (belum lulus abaca seri 1 sampai 3 sampai 'ahli'). Dan yang terpenting, perhatikan reaksi anak. Jika anak terlihat terbebani maka tunda dulu, lalu tes lagi sekitar 4 bulan berikutnya. Jika anak sudah menunjukkan ketertarikkan alami terhadap ‘corat – coret’ huruf, maka tidak ada salahnya Anda mencoba ‘memancingnya’ untuk menulis suku kata yang mudah dulu.
Oleh: Diena Ulfaty

Komentar
Posting Komentar