Apakah benar Calistung Berbahaya?


Foto Diena Ulfaty.
Para pakar perkembangan anak dan neurologist (pakar otak) berpendapat bahwa anak-anak baru bisa diajari membaca hanya ketika otak mereka sudah cukup berkembang. Di Amerika tidak ada yang melarang anak usia TK belajar Calistung, padahal riset di Amerika paling maju dibanding Negara lain manapun di dunia. Lalu apa yang melatarbelakangi isu tentang bahaya belajar calistung?
Riset tentang otak anak
Semua itu diawali oleh sebuah pertanyaan tentang apakah terlalu sedikit bermain bermasalah bagi anak?
Beberapa pakar berpendapat bahwa anak yang sedikit bermain bisa menjadi depresi dan kasar. Lagipula bukan hanya anak-anak saja yang bisa depresi, Anda pun jika kurang beristirahat juga bisa depresi. Anak-anak perlu istirahat, periu lebih banyak bermain, dan jika kita memforsir mereka untuk belajar yang sifatnya akademik seperti belajar calistung maka itu akan menjadi masalah bagi mereka. Inilah yang melatarbelakangi isu tentang bahaya calistung, karena jika anak terforsir dan dunia bermainnya terenggut maka anak-anak akan depresi. Jika mereka mengalami hal ini maka perkembangan mereka akan terhambat.
Tetapi kekhawatiran itu bisa menjadi berlebihan bagi orangtua yang tidak memahami seluk beluk penelitian. Tentang riset calistung sebenarnya sama sekali belum ada. Namun seorang pakar otak anak bernama Jaak Panksepp, Ph.D, Profesor Emiritus di Bowling Green University menyatakan bahwa permainan memiliki dampak pada otak bagian depan, yaitu bagian yang menjadi tempat control diri.
Dr. Paaksepp dan Nikki Gordon melakukan eksperimen terhadap tikus-tikus laboratorium. Beberapa tikus-tikus ini diletakkan di ruang yang banyak permainannya, dan sebagian tikus diletakkan di ruang yang tidak ada permainannyaa. Mengapa Panksepp mengambil sampel tikus untuk obyek penelitian ini, mengapa bukan anak-anak saja yang dijadikan obyek riset? Karena riset yang melibatkan anak dengan resiko anak tertekan adalah suatu hal yang TIDAK ETIS. Jadi tidak ada riset calistung yang menjadikan anak-anak sebagai obyek penelitian, tentu saja ilmuwannya tidak tega melakukan ini.
Apa yang terjadi pada tikus yang kurang permainan? Tikus yang kurang permainan mengalami penundaan kematangan otak, dan otak bagian depan yang bertanggung jawab untuk masalah control diri mengalami kerusakan.
Tapi ternyata kerusakan otak ini tidak bersifat permanen, ketika tikus-tikus laboratorium ini diberi permainan maka otak bagian depan yang rusak, berangsung2 sembuh.
Intinya, kondisi depresi atau tertekan, dalam mempelajari apapun, itu harus dihindari karena bisa menyebabkan kemunduran. Dan permainan bisa membuat anak-anak semakin cerdas. Bagaimana dengan ABACA? Lihat anak penderita ADHD pun bisa konsentrasi berkat ABACA, sekaligus membuktikan bahwa permainan ABACA sesuai riset Panksepp yang menyebutkan bahwa permainan yang membuat anak-anak menjadi keranjingan, dapat menyembuhkan berbagai masalah yang berkaitan dengan konsentrasi seperti anak2 dengan ADHD.
Jadi pilihlah media yang tepat, yang tidak membuat anak tertekan, ketika belajar symbol. Karena dampak yang akan dimunculkan oleh anak-anak yang tertekan adalah kemunduran dalam perkembangannya. Ini berlaku untuk semua hal yang bisa membuat anak depresi, bukan Cuma calistung. Bahkan jika anak di sekolah full day school yang membuat anak minim istirahat dan berpotensi depresi, sebaiknya jangan memilih sekolah yang terlalu memberi banyak beban kepada anak. Bukan hanya sekolah TK, tapi juga sekolah SD, SMP, SMA, dll.
by:Diena Ulfaty

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DENGAN MEDIA BELAJAR BACA ABACA DI SEKOLAH PAUD AL MAGHRIBI

BERIKAN MEDIA TERBAIK, UNTUK MENEMANI SI KECIL BELAJAR MEMBACA. JANGAN ASAL COBA, COBA YG BENER

TEMUKAN KESERUAN BELAJAR HIJAIYAH SAMBIL BERPETUALANG DI ISTANA RAJA DONAT!!!