Pengklasifikasian Huruf pada Produk abaca flashcard


Foto Diena Ulfaty.
ABACA diciptakan melalui hasil observasi terlebih dahulu, untuk menjaring statistic terbanyak yang ada di sekitar kita. Jadi artinya, sifatnya tidak 100%, karena pendekatan ini menjaring statistik terbanyak tentang anak-anak yang mempelajari symbol di usia di bawah 5 tahun.
Fakta yang terjadi adalah:

1. Setiap anak istimewa. Sebagian anak lahir dengan kecerdasan sangat tinggi di atas normal (jenius), sebagian lagi lahir dengan kecerdasan logika tinggi, sebagian lagi dengan kecerdasan gambar tinggi, dan sebagian lagi dengan kecerdasan bahasa tinggi, dll. Namun di antara anak-anak yang memiliki keistimewaan tersebut, hanya anak dengan IQ jenius saja yang dapat mempelajari symbol (huruf/angka) tanpa terstruktur, juga sebagian anak yang memiliki kecerdasan logika tinggi merasa cukup menggunakan buku saja untuk belajar membaca tapi sangat disayangkan jumlah anak yang seperti ini tidak banyak dan tidak dapat mewakili “suara” rata-rata anak di dunia. Rata-rata anak-anak yang memiliki kecerdasan logika tinggi sekalipun, menyukai permainan, karena itu dunia mereka. Memang ada beberapa anak yang merasa cukup belajar menggunakan buku akan tetapi jumlah mereka tidak banyak. Dan pendekatan pada metode ABACA, bisa menjaring statitik rata-rata anak, disebabkan pendekatan ini memperhatikan tingkat kesulitan materi (huruf) dan klasifikasi huruf di dalam box-boxnya. Terbukti telah ada lebih dari 100 testimoni anak yang cocok menggunakan metode ini. Pendekatan materi seperti ini dilakukan agar pendekatan ini cocok diterapkan kepada banyak anak (bukan segelintir anak).
Anak dengan kecerdasan logika tinggi (biasanya dicirikan pada kemampuan anak berfikir kritis, logis, bahkan bisa memecahkan masalah yang berkaitan dengan logika) umumnya bisa membaca di usia lebih dini dibanding anak-anak lainnya, meskipun IQnya tidak termasuk golongan genius. Anak-anak jenis ini biasanya jika menemukan media semacam ABACA yang terpola, mampu menyebutkan polanya dan bisa menyelesaikan ABACA dalam waktu lebih singkat dibanding anak dengan jenis kecerdasan lain. Jadi meskipun sebagian anak dengan kecerdasan logika tinggi dapat belajar symbol (huruf dan angka) tanpa metode terstruktur akan tetapi jumlah mereka sedikit, tidak dapat dijadikan sampel atau obyek penelitian untuk kasus kesulitan membaca. Dan meskipun di lapangan, beberapa anak dengan kecerdasan logika tinggi tidak memerlukan alat peraga tertentu untuk bisa membaca (biasanya anak-anak jenis ini) cukup belajar menggunakan buku saja, akan tetapi lagi-lagi statistic membuktikan kalau jumlah mereka tidak banyak. Jadi anak-anak seperti ini tidak dapat dijadikan obyek penelitian untuk kasus kesulitan membaca, mewakili jutaan anak di dunia. ABACA mencoba menjaring statistic terbesar anak-anak dengan kesulitan belajar membaca, dengan metode Aritmatika suku kata (klasifikasi materi dengan urutan termudah, sampai tingkat kesulitan tertinggi dan terpola jelas) dan dipadukan dengan game agar anak tidak terasa jika sedang belajar.

2. Meskipun di lapangan ditemukan anak-anak dengan kecerdasan logika tinggi mampu belajar menggunakan buku (tanpa alat peraga) tapi sayang, karena dunia mereka adalah dunia anak-anak yang lebih suka bermain daripada belajar, maka di antara jumlah mereka itu masih terdapat anak-anak yang mudah bosan (meskipun mereka bisa membaca tanpa menggunakan alat peraga (hanya buku saja)) tetapi mereka merasakan ada tekanan ketika melalui proses itu. Rata-rata anak tidak sanggup menyelesaikan dua halaman buku belajar membaca dan memilih berhenti membaca kalimat yang ada di buku (sebab kurang menikmati cara belajarnya). Ini yang terjadi pada rata-rata anak.

3. Anak-anak suka dengan materi yang mudah. Karena jika terlalu sulit maka mereka akan malas untuk melanjutkan ke sesi selanjutnya dan memilih berhenti. Nah agar materi membaca menjadi mudah maka ABACA membuat kurikulum sendiri untuk membaca huruf dengan memisahkan suku kata yang mirip, dan meletakkan huruf-huruf sulit di box-box terakhir. Jika dengan ABACA tidak bisa memahami, maka jangan berharap menggunakan kartu biasa yang tersusun tanpa pola dan hanya sekumpulan kartu saja yang isinya huruf. Jika ada anak kesulitan menggunakan ABACA, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengetes kesiapan sang anak, jika anak belum siap maka tunda dulu belajarnya dan tunggu anak benar-benar siap baru memulainya. Jika anak sudah siap tapi tetap tidak bisa, maka ganti pengajarnya, carikan seorang pengajar yang dapat membangun hubungan positif dengan anak tersebut. Tanpa pengajar yang bagus (dapat membangun hubungan positif dengan anak serta memahami karakternya), rasanya agak mustahil memperoleh hasil yang memuaskan tak peduli sebagus apapun media yang digunakan.

4. Anak-anak tidak suka diforsir, itulah sebabnya di box 1 hanya terdapat 16 kartu (maksimal) agar orangtua menghentikan sesi belajar dan mengambil delay jika anak sudah kehilangan fokusnya. Itulah yang melatarbelakangi teknik pengklasifikasian suku kata pada box-box yang terdapat pada ABACA Flashcard. Untuk menjaga anak agar anak selalu pada kondisi terbaiknya.
by: Diena Ulfaty

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DENGAN MEDIA BELAJAR BACA ABACA DI SEKOLAH PAUD AL MAGHRIBI

BERIKAN MEDIA TERBAIK, UNTUK MENEMANI SI KECIL BELAJAR MEMBACA. JANGAN ASAL COBA, COBA YG BENER

TEMUKAN KESERUAN BELAJAR HIJAIYAH SAMBIL BERPETUALANG DI ISTANA RAJA DONAT!!!