TAHAPAN DALAM BELAJAR MEMBACA UNTUK MENGHINDARI ANAK TERTEKAN


Foto Diena Ulfaty.
Para pakar anak Amerika, dari universitas kenamaan semacam Harvard University, berpendapat bahwa belajar membaca tidak dapat dilakukan sebelum otak anak cukup berkembang sempurna. Menurut statistik dan riset, minimal angka kesiapan bisa dimulai ketika anak berusia 4 tahun. Akan tetapi angka ini tidak berlaku universal, artinya tidak semua anak siap membaca di usia ini. Dari statistic masih ditemukan angka sebesar 10% anak yang belum dapat memahami symbol atau huruf di usia 4 tahun.
Sebagian kecil anak, sudah menunjukkan kesiapan di usia lebih dini. Seperti yang pernah dibahas dalam slide 2 dan slide 10, pada training sebelumnya. Rata-rata anak yang menunjukkan kesiapan seperti ini adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan logika tinggi. Kematangan salah satunya dicirikan pada kemampuan anak membuat pola warna, dan mengenal bentuk-bentuk bidang di usia dini. Sebagian besar anak dengana kecerdasan logika tinggi dapat memahami pola warna dan menguasai seluruh warna kompleks di usia kurang dari 3 tahun, warna kompleks yang dimaksud adalah warna hijau tua, hijau muda, coklat tua, coklat muda, jingga, abu-abu, dll. Serta mampu mengenali bentuk semua bidang datar seperti pesergi, segitiga, dll. Mengapa tahapannya seperti ini? Karena untuk memahami bentuk huruf yang memiliki 26 bentuk, dengan lekukan yang rumit itu memerlukan usaha ekstra dan kematangan otak. Jika bentuk bidang datar yang jauh lebih mudah saja anak susah menguasainya, maka jangan pernah mengharapkan dia dapat mengingat nama huruf dan bentuknya. Karena itu menandakan otak anak belum siap.
Huruf ataupun angka merupakan sesuatu yang abstrak bagi anak-anak usia dini. Artinya, angka 3 bukanlah pisang atau mangga, angka 3 merupakan sebuah symbol yang mewakili definisi benda yang dijejer dalam jumlah tertentu. Jadi untuk memahami makna angka 3 ini, anak harus memahami konsep berhitung dahulu. Jika anak belum dapat menguasai konsep berhitung maka jangan berikan beban kepadanya untuk menghafal atau mengingat symbol, baik angka ataupun huruf. Jika itu dilakukan, anak-anak akan cenderung kesulitan dan di level tertentu jika pengajarnya tidak sabar, anak-anak akan tertekan dan tidak dapat menikmati proses belajar yang dilakukan.
Nah, untuk mengajarkan sesuatu yang abstrak kepada anak, orangtua perlu memahami tahapannya. Persiapkan dahulu ketrampilan yang perlu dikuasai anak untuk dapat membaca. Seperti lakukana tes warna-warna kompleks (bukan hanya warna dasar saja), serta bentuk bidang datar, konsep berhitung, serta kemampuan menalar peristiwa, dll. Jika semua tahapan ini masih lemah dan belum dikuasai dengan baik maka tunda dahulu belajar hurufnya.
Disebabkan huruf ataupun angka merupakan hal abstrak, maka diperlukan perlakuan khusus dalam tahapan pengenalannya. Dari beberapa testimony yang masuk, serta berbagai pengamatan terhadap beberapa Tk yang menggunakan media buku belajar membaca, banyak sekali anak usia TK yang “kabur” saat belajar menulis atau membaca di sekolah. Sebagian anak bersembunyi di arena bermain, dan sebagian lagi mogok dan hanya memandangi buku tanpa mau serius belajar. Bahkan anak dengan kecerdasan logika tinggi yang dapat menguasai atau menghafal huruf di usia dini, tidak begitu antusias belajar membaca dan akibatnya LELAH padahal baru membaca setengah halaman. Sebagian lagi, enggan membaca satu halaman penuh dan terlihat ngos-ngosan menyelesaikannya. Mengapa anak-anak bersikap demikian?
Huruf atau angka, keduanya merupakan symbol yang menurut anak-anak usia dini dan otaknya belum cukup berkembang, merupakan hal abstrak. Pemikiran ini mirip seperti remaja SMP atau SMA yang disuruh menghafalkan rumus Matematika atau Fisika. Semua rumus merupakan hal abstrak yang “mewakili” sebuah kejadian alam. Contoh, dalam rumus gaya yang disimbolkan dengan huruf F, Anda akan menemukan banyak sekali symbol seperti m yang mewakili massa benda dan a yang mewakili percepatan benda. Inilah symbol yang abstrak. Anak SMP/SMA yang tidak pernah mempelajarinya pasti akan bingung jikaa disodori symbol-simbol seperti rumus Fisika Gaya, bahkan meskipun sudah dijelaskan oleh guru di sekolah, anak-anak ini tetap saja kesulitan dan nilainya selalu buruk untuk mata pelajaran Matematika atau Fisika (karena melibatkan sesuatu yang abstrak (rumus)). Analogi tersebut mirip dengan anak-anak TK yang dunianya bermain, dan otaknya belum cukup berkembang, melihat huruf atau angka yang bagi mereka abstrak. Itulah sebabnya sebagian besar dari mereka kesulitan menghafal huruf atau symbol, seperti kesulitan yang dialami anak SMP yang diminta guru Matematika untuk menghafal rumus.
Segala sesuatu yanag sifatnya abstraak itu memiliki tingkat kesulitan tinggi, sehingga diperlukan cara kreatif agar anak-anak dapat menguasai materi abstrak dengan lebih mudah. Itulah salah satu yang menjadikan lahirnya ABACA, yang memetakan kesulitan anak-anak usia dini, agar mereka dapat menerima materi abstrak dengan lebih mudah dan menyenangkan.
Berikut ini tahapan yang diperlukan anak untuk belajar huruf. Ketika anak sudah menguasai semua warna (termasuk warna-warna kompleks), juga bentuk bidang datar, dan konsep besar kecil, tinggi rendah, cukup atau tidak cukup, dll maka perlu kita tes kesiapan belajar membaca dengan menggunakan ABACA Flashcard.
1. Belajar dengan menggunakan kartu ABACA panen es krim dan mengeluarkan 5 kartu lebih dahulu. Perhatikan kemampuan anak dalam menghafal dan proses belajar yang dilakukan. Apakah anak lebih suka gambarnya daripada hurufnya, ataukah anak susah mengingat huruf yang ditanyakan kepadanya. Apakah level kesulitan anak mengingatnya masih tinggi? Atau sebenarnya masih bisa diatasi? Jika level kesulitannya tinggi maka hentikan dulu belajarnya. Anak tertekan berarti STOP. Meskipun ABACA mengklasifikasikan tingkat kesulitan pengenalan terhadap huruf, dan mengurutkannya dari yang tingkat kesulitan paling rendah (box 1 panen es krim), akan tetapi jika anak tidak dapat menguasai yang ada pada urutan paling mudah di box 1, maka artinya tunda dulu belajarnya. Bahkan Anda tidak perlu terburu-buru sebelum anak berusia 6 tahun. Karena Negara maju semacam swedia yang memiliki system pendidikan terbaik di dunia mengajarkan materi membaca di usia 7 tahun, ketika hampir 100% anak telah siap belajar membaca.
2. Setelah anak mampu lulus seri 1, maka ujilah kemampuannya untuk membaca kalimat dengan menjejerkan 2 atau 3 kartu dan tingkatkan level kesulitannya agar anak tidak jenuh. Lalu jumlahkan poinnya jika anak dapat membaca kalimat pada kartu yang dijejerkan. Dengan cara seperti itu anak berarti TELAH DIPERSIAPKAN untuk belajar ke level yang lebih sulit lagi yaitu belajar membaca menggunakan buku belajar membaca.
3. Gunakan buku belajar membaca yang memahami perkembangan anak, yang terstruktur kalimatnya dan cocok digunakan untuk pemula jika anak sudah menguasai ketiga seri abaca flashcard. Carikan buku yang menarik agar anak dapat menyelesaikan setiap halaman tanpa merasa ngos-ngosan.
Jadi ketiga tahapan di atas perlu dilalui agar pembelajaran huruf menjadi menyenangkan untuk anak usia dini. Mengapa belajar menggunakan flashcard lebih mudah dibandingkan dengan buku? Karena variable huruf dalam tiap halaman buku sangat banyak, berbeda dengan flashcard yang di setiap kartunya hanya memuat satu suku kata (dua huruf) yang polanya konsisten. Itulah sebabnya penting mengkampanyekan pentingnya penggunaan abaca flashcard sebagai tahap pertama belajar membaca sebelum menggunakan buku, agar proses yang dilakukan smooth dan mengurangi perasaan tertekan yang dialami anak-anak. Karena ABACA sangat ramah otak dan memahami perkembangan serta kebutuhan anak-anak.
by: Diena Ulfaty

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DENGAN MEDIA BELAJAR BACA ABACA DI SEKOLAH PAUD AL MAGHRIBI

BERIKAN MEDIA TERBAIK, UNTUK MENEMANI SI KECIL BELAJAR MEMBACA. JANGAN ASAL COBA, COBA YG BENER

TEMUKAN KESERUAN BELAJAR HIJAIYAH SAMBIL BERPETUALANG DI ISTANA RAJA DONAT!!!